PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM TENTANG KONSEP CRITICAL THINKING DALAM ALQURAN
DOI:
https://doi.org/10.46576/wdw.v0i62.516Abstract
RINGKASAN- Manusia itu disebut al-insan hayawân nâthiq, yakni hewan yang mampu berpikir. Artinya bahwa kemampuan berpikir itu merupakan fitrah yang inheren pada setiap manusia. Melalui berpikir, manusia dapat melampaui segala sesuatu dan memecahkan masalah, melalui berpikir dapat mengerti yang abstrak, contonya tentang kebajikan dan kejahatan, kemuliaan dan keterburukan serta kebenaran dan kebatilan. Hanya saja, manusia dalam berpikir terbatas dalam masalah pengetahuan dan persepsi, karena fitrah berpikir yang ada pada manusia tidak akan berkembang secara otomatis jika tidak dirangsang untuk diberdayakan.
Beberapa ayat dalam Alquran menyatakan agar manusia menggunakan pikirannya, Berpikir kritis menurut Alquran seperti bentuk lafad tatafakkarun, ta’qilun, ulul al-bab, tatadzakkarun, tubsirun, tatadabbarun, ta’lamun, Sejarah nabi bagian dari peradaban dan pengetahuan, sehingga berpikir adalah bagian dari risalah kenabian meliputi aspek psikologis mental-seorang nabi melihat realitas yang ada, misalnya permasalahan-permasalahan dan problematika kondisi manusia pada masa itu. Maka terjadilah berpikir kritis dalam struktur realitas ultimate terhadap problematika kehidupan sebagai ujud eksistensi nabi sebagai manusia yang tersentuh untuk berpikir dalam menyelesaikan permasalahan.Downloads
Published
Issue
Section
License
Jika makalah Anda diterima, penulis yang diidentifikasi sebagai penulis resmi yang sesuai untuk makalah tersebut akan menerima email yang meminta mereka untuk masuk ke Layanan Penulis; dan melakukan tahapan yang diarahkan untuk mempublish makalahnya






